Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Dalam Pembelajaran Sejarah


Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)  Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak)

Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran

 

Lokasi

SMA NEGERI 53 JAKARTA

Lingkup Pendidikan

SMA/MA

Tujuan yang ingin dicapai

Meningkatkan hasil belajar, kemampuan literasi numerasi serta mengimplementasikan HOTS dalam pembelajaran sejarah

Penulis

Priska Amanda

Tanggal

06-Desember-2022

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Kegiatan pembelajaran di kelas seharusnya menjadi waktu yang sangat efektif untuk dapat membimbing para peserta didik agar mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Namun dalam pelaksanaan seringkali interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik kurang maksimal dan hasilnya adalah kegiatan pembelajaran yang terlaksana kurang efektif dan efisien. Beberapa hal yang menjadi permasalahan pada kegiatan pembelajaran yaitu rendahnya kemampuan literasi numerasi peserta didik dan rendahnya hasil belajar peserta didik serta kurangnya implementasi HOTS dalam pembelajaran.

 

Sebagai seorang guru, kami memiliki tanggung jawab untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah tempat saya bertugas dan mencari solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut. Pada permasalahan kali ini, saya berusaha untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi peserta didik saya dan juga meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan memberikan pelayanan pendidikan yang optimal.

 

Peran saya sebagai guru sangatlah mempengaruhi akan hasil akhir dari peserta didik. Untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal maka dibutuhkan kerja keras dengan merancang pembelajaran dan melaksanakan evaluasi serta remedial yang diperlukan. Tetapi tidak hanya itu, untuk menciptakan suasana yang aman dan bahagia juga sangatlah penting bagi peserta didik. Guru harus dapat menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi agar memiliki hasil yang maksimal.

 

Kinerja seorang guru seyogyanya dari hari kehari harus semakin baik. Apabila ada kendala ataupun kesulitan yang ditemui pada saat mengajar, tentunya dapat melakukan introspeksi dan mengevaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan. Kendala atau kesulitan tersebut mungkin saja dikarenakan metode pembelajarannya yang kurang sesuai, ataupun karena media pembelajarannya yang sudah tidak cocok dengan era digital saat ini. Oleh karena itu seorang guru harus memahami peserta didik dan memberikan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Dalam memberikan pembelajaran pada mata pelajaran yang saya ampu yaitu mata pelajaran sejarah, saya merasa bahwa peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi yang berhubungan dengan literasi numerasi pada materi di mata pelajaran sejarah kelas X di SMA Negeri 53 Jakarta. Dikarenakan banyak terdapat materi sejarah yang sangat panjang penjelasannya sehingga untuk dapat menjawab soal maka harus menganalisis dan harus berliterasi agar mendapat nilai yang maksimal.  

 

Seperti yang kita ketahui bahwa materi sejarah ini tidak dapat berjalan lancar jika peserta didik belum ada motivasi untuk melaksanakan literasi numeras dengan maksimal. Sedangkan kompetensi peserta didik berbeda-beda sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk dapat meningkatkan kemampuan peserta didik. 

 

Dengan adanya loss learning akibat pandemi covid 19, peserta didik belum banyak diberikan pelatihan mengenai soal-soal literasi numerasi oleh guru mata pelajaran serta guru yang kurang kreatif dalam mencari/menyajikan soal-soal berkenaan dengan literasi numerasi sehingga peserta didik kurang mendapatkan stimulus untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasinya.

 

Permasalahan selanjutnya yang dihadapi adalah hasil belajar peserta didik yang rendah disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar peserta didik. Motivasi belajar yang rendah ini dikarenakan suasana belajar yang kurang kondusif. Hasil belajar yang rendah juga dikarenakan guru masih menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered learning).Jika hal ini dibiarkan begitu saja tanpa mencari solusi untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi peserta didik dan meningkatkan hasil belajar peserta didik maka kemampuan literasi numerasi peserta didik tidak akan berkembang dan pada akhirnya hasil belajar peserta didik juga tidak mengalami peningkatkan, yang artinya pembelajaran yang telah diberikan oleh guru dan diserap oleh peserta didik tidaklah efektif dan efisien.

 

Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka tantangan yang dihadapi saya sebagai guru yaitu melaksanakan/mengikuti IHT (In House Training) mengenai pembelajaran berbasi, serta mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOTS di dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai guru juga memiliki tantangan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran seperti canva, wordwall, dan video pembelajaran serta dengan menerapkan ice breaking di kelas. Selain itu juga guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran inovatif salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL).

 

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Strategi yang saya terapkan antara lain menerapkan pembelajaran berbasis HOTS dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning (PBL) dan project based learning (PjBL) yang terintegrasi dengan TPACK.

Pada model pembelajaran PBL, peserta didik diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator peserta didik.

Prinsip pembelajaran model PBL yaitu dengan memberikan masalah sebagai langkah awal dalam proses pembelajaran, masalah yang disajikan adalah masalah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, karena akan semakin baik pengaruhnya pada peningkatan hasil belajar (Amir, 2010:22)[1]

 

Tahap model PBL adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Fase Fase Model PBL

Fase

Fase Model PBL

Perilaku Guru

Fase 1

Memberikan orientasi mengenai masalah pada peserta didik

Membahas tujuan pelajaran, mendeskripsikan kebutuhan penting, dan memotivasi peserta didik untuk terlibat pada kegiatan mengatasi masalah

Fase 2

Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti

Membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas yang terkait dengan permasalahan yang diberikan

Fase 3

Membantu investigasi mandiri dan kelompok

Mendorong peserta didik untuk memperoleh informasi yang tepat, melakukan percobaan dan mencari penjelasan serta solusi

Fase 4

Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit

Membantu peserta didik merencanakan serta menyiapkan artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, model model, dan membantu peserta didik menyampaikannya kepada orang lain.

Fase 5

Analisis dan evaluasi proses mengatasi masalah

Membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses yangn peserta didik lakukan

 

Pada model pembelajaran PjBL, peserta didik diberi kesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator peserta didik. Peserta didik tidak lupa melaksanakan asesmen kognitif dan diagnostik untuk mempermudah membentuk kelompok project yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.

 

Sintaks Pembelajaran Berbasis Proyek sebagai berikut: (1) penyajian permasalahan, (2) membuat perencanaan, (3) menyusun penjadwalan, (4) memonitor pembuatan proyek, (5) melakukan penilaian, dan (6) evaluasi (Sani, 2015).

 

Tabel 1. Fase Fase Model PjBL[2]

Fase

Fase Model PjBL

Perilaku Guru

Fase 1

Penentuan Projek

Guru Bersama dengan peserta didik menentukan tema/topik projek

Fase 2

Perancangan Langkah Langkah penyelesaian projek

Guru memfasilitasi Peserta Didik untuk merancang Langkah-Langkah kegiatan penyelesaian projek beserta pengelolaannya

Fase 3

Penyususnan jadwal pelaksanaan projek

Guru memberikan pendampingan kepada peserta didik melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah dirancangnya

Fase 4

Penyelesaian projek dengan fasilitasi dan monitoring guru

Guru memfasilitasi dan memonitor peserta didik dalam melaksanakan rancangan projek yang telah dibuat

Fase 5

Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek

Guru memfasilitasi Peserta Didik untuk mempresentasikan dan mempublikasikan hasil karya

Fase 6

Evaluasi proses dan hasil projek

Guru dan Peserta Didik pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas projek

 

 

Selama proses pembelajaran di kelas, sebelum dimulainya kegiatan inti saya memberikan motivasi kepada peserta didik dengan kata-kata motivasi, video motivasi maupun permainan ice breaking agar peserta didik semangat dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.

 

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

Setelah saya amati dan ikut berbaur diantara mereka, saya menyaksikan mereka lebih bersemangat dalam belajar Sejarah.  Dengan menerapkan PBL ini aktivitas peserta didik meningkat yaitu adanya aktivitas diskusi, tutor sebaya, berbagi pendapat, tanya jawab dan saling membantu dalam memahami materi bersama serta dibantu dengan pendekatan teknologi membuat peserta didik lebih mudah melaksanakan pembelajaran. Hal ini juga mengembangkan kemampuan peserta didik dalam pembelajaran, serta memiliki nilai-nilai karakter seperti nilai tanggung jawab, kerjasama, demokrasi, dan percaya diri. Selain itu, mereka lebih leluasa dalam mengeksplorasi pemikiran mereka sehingga meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik.

 

Dampak yang dirasakan bukan hanya sebatas dirasakan oleh peserta didik namun juga dampak terhadap guru yaitu guru semakin inovatif dalam mengembangkan media dalam pembelajaran di kelas, pengimplementasian media ajar berbasis TPACK membuat guru semakin termotivasi untuk belajar dalam memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, dan penerapan model pembelajaran dalam penerapan aksi membuat guru semakin memahami cara untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran sehingga pembelajaran jadi lebih bermakna bagi peserta didik.

 

Penerapan aksi akan membuat sekolah semakin berwarna dan berdampak positif bagi peserta didik. Ditambah lagi hasil aksi berupa video yang diunggah pada youtube membuat sekolah semakin dikenal oleh masyarakat dan mendapat respon positif dari wali murid. Dan semoga langkah kecil ini dapat menjadi langkah awal untuk memajukan kualitas pendidikan.

 

Dan terakhir, dampak yang dirasakan masyarakat/Wali murid adalah  rasa semakin percaya terhadap sekolah. Melalui pembelajaran interaktif yang telah dilakukan guru dan peserta didik kemudian hasilnya diunggah di youtube dan media sosial membuat orang tua peserta didik bangga setelah melihat putra-putrinya terlihat aktif dalam pembelajaran di kelas.

 

Pada kegiatan refleksi juga perlu diketahui respon dari orang lain terkait strategi yang digunakan pada aksi yang telah dilakukan. Respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan antara lain :

1.     Respon Kepala sekolah dan guru

Respon positif terkait pelaksanaan aksi untuk mengatasi masalah pembelajaran yang dialami guru. Respon positif tersebut diberikan karena guru sudah menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif, model pembelajaran inovatif, dan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan (canva, dan video pembelajaran)

2.     Respon Peserta didik

Peserta didik memberikan refleksi bahwa pembelajaran sangat menyenangkan. Media pembelajaran yang digunakan menarik dan membantu dalam memahami materi pelajaran.

 

Keberhasilan dari penerapan strategi pada aksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor keberhasilan pembelajaran dapat dilihat dari :

1.     Dukungan dari kepala sekolah yang memberikan izin praktik PPL dan dukungan teman sejawat yang membantu mempersiapkan alat dalam proses perekaman kegiatan pembelajaran.

2.     Penguasaan guru terhadap model pembelajaran, metode pembelajaran, dan media pembelajaran dalam penerapan strategi aksi. Keterampilan dalam pembuatan LKPD, bahan ajar, dan langkah-langkah pada RPP.

3.     Keaktifan peserta didik dalam memperoleh hasil pemecahan masalah melalui kegiatan diskusi kelompok. Hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dengan penuh tanggung jawab dan percaya diri.

4.     Sarana prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran, PPT, canva, dan video tidak akan bisa digunakan untuk pembelajaran yang interaktif tanpa adanya LCD proyektor dan speaker

 

Hasil penerapan strategi pada aksi ini memiliki keunggulan dalam meningkatkan kemampuan literasi numerasi, motivasi dan hasil belajar peserta didik. Pembelajaran yang bisa diambil dari proses dan kegiatan ini antara lain :

1.     Guru semakin memahami kondisi peserta didik dan dapat mengelola kelas dengan baik.

 

2.     Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam memilih model dan media pembelajaran untuk membuat proses belajar mengajar sesuai dengan yang diharapkan. Hal tersebut dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan literasi numerasi peserta didik khususnya dalam mata pelajaran sejarah.

 

 

 



[1] Farisi, Ahmad, dkk. “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Suhu dan Kalor”. Jurnal Imliah Mahasiswa (JIM) Pendidikan Fisika. Vol. 2, No.3. (2017) http://www.jim.unsyiah.ac.id/pendidikan-fisika/article/view/4979/2336 Diakses pada Sabtu, 17 September 2022 Pkl. 16.43 WIB

[2] Muryati. “Meningkatkan Kemampuan Guru Kimia Dalam Mengelola Pembelajaran Dengan Model Project Based Learning”. Edudikara : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Vol.4, No.3 (2019). http://www.ojs.iptpisurakarta.org/index.php/Edudikara/article/view/158/121 Diakses pada Sabtu, 17 September 2022 Pkl. 18.02 WIB.

Comments